Selasa, 12 Agustus 2008

GAYA HIDUP, MUSIK DAN IDEOLOGI

Oleh : Dody Nur Andriyan
Banyak generasi muda zaman sekarang yang gaya hidupnya sangat heddonist (berasal dari kata heddon: kesenangan, artinya hidup dengan penuh kesenangan, lebih suka hura-hura, dan bersenang-senang). Mereka lahir pada dekade 90an, setelah kemenangan Liberalisme terhadap Komunisme dan menggejalanya globalisasi dan gaya hidup metropolis. (Ingat, The End Of History and The Last Man Francis Fukuyama di rilis tahun 1992, dan The Clash Of Civilization and The Remaking of The World Order Samuel Huntington dirilis tahun 1996). Maka tidak heran jika generasi sekarang sangat buta terhadap apa itu ideologi, apa itu budaya, apa itu heddonistsm. Jangankan berbicara masalah seperti itu, pada masa sekarang ini, kita akan sangat sulit menemui bocah-bocah (di perkotaan dan di daerah sub urban, urban, apalagi metropolis) bermain petak umpet, gobak sodor, dan permainan yang mengandalkan kekompakan dan kerjasama serta melatih fisik dan lebih bersifat komunal. Yang ada sekarang diganti dengan permainan individual yang mementingkan ego, mengurung anak dalam dunia sendiri, autis, apatis, skeptis, dan tidak menumbuhkan empati dan rasa perkawanan yang kuat. Jadilah sekarang ini bocah-bocah lahir dan tumbuh sebagai anak-anak yang egois, individualis, rasa empati, simpati dan solidaritasnya mengering. Sejalan dan simetris dengan pengetahuan mereka untuk menyibak apa yang ada dibalik gaya hidup yang mereka anut.

Kita tentu harus menyepakati dahulu apa itu gaya hidup, musik dan ideologi. Gaya hidup dan musik akhir-akhir ini tidak bisa dipisahkan, keduanya sangat bertalian erat dan menyatu. Apa yang dinamakan life style (gaya rambut, gaya berpakaian,tempat makan, makanan, pola hidup, dsb) adalah sangat terpengaruh, salah satunya adalah oleh musik. Coba kita lihat acara-acara musik, pencarian bakat, panggung festival, dsb tentu akan lebih ramai di kunjungi dan dijadikan ”kiblat”, daripada tempat ibadah, perpustakaan, toko buku dsb. Sebuah pertunjukkan musik tentu saja akan lebih banyak dikunjungi daripada sebuah acara seminar atau bedah buku. Hal yang sama terjadi sejak zaman Romawi dengan politik ”Colleseum” Kaisar Nero dari Romawi. Pertunjukkan musik, ajang pencarian bakat, panggung-panggung festival musik lengkap dengan tingkah pola dan perilaku artis dan musisinya di jadikan barometer dan ”kiblat” oleh anak muda. Gaya rambut seorang musisi artis yang tidak lazim dan kontroversial akan dengan mudah di tiru dan di imitasi oleh ribuan generasi muda, bukan hanya dandanan, gaya hidup mereka; gonta-ganti pacar, samen liven, sampai dengan nekad membunuh idola mereka karena emosi yang meletup seperti yang terjadi pada John Lennon. Gaya rambut Mohawk ala prajurit Romawi lalu di adaptasi oleh musisi Punk, dan kemudian di ikuti oleh pemuja-pemuja musik PUNK di seantero dunia. Bahkan seorang Frederick Ljungberg yang bermain untuk klub sepakbola Arsenal dan juga David Beckham juga mengadopsi gaya rambut ini, seperti juga yang dilakukan Ahmad Dhani, menjadikan booming gaya rambut ala Mohawk ini semakin menjadi-jadi. Sampai disini kita sampai pada kesimpulan bahwa ada korelasi kuat antara musik dengan life style, atau dengan kata lain, bahwa musik sangat berpengaruh terhadap gaya hidup (life style depend on music).

Apa yang disebut sebagai musik dan gaya hidup adalah sebuah kultur yang terus dipelihara dan diulang-ulang serta dilestarikan, dan jika itu terjadi maka yang terjadi dan timbul adalah sebuah kebudayaan, demikian dikatakan oleh (alm) Prof. Koentjaraningrat. Kebudayaan, yang timbul dari pengulangan dan pelestarian kebiasaan, gaya hidup tersebut, tidaklah berdiri sendiri, dia tidak berada dalam ruang hampa udara yang netral dan steril dari kepentingan. Kebudayaan terbentuk dari tataran nilai dan norma yang ada dalam masyarakat. Dan pada puncaknya kebudayaan itu selalu terkait dan dikaitkan dengan entitas politik. Kekuasaan selalu mempunyai kepentingan dan korelasi yang kuat dengan kebudayaan. Demikian pula dengan ideologi. Ideologi adalah kristalisasi nilai, tujuan, pandangan hidup, the thingking of way, pandangan hidup, demikian lah ideologi. Orang akan memilih ideologi sesuai dengan kultur dan latar belakang serta setting kehidupannya. Meskipun pada beberapa kasus, ideologi bisa di rekayasa, di paksakan, atau di kenakan terhadap beberapa orang dan komunitas secara bertahap, evolusioner, atau secara frontal, revolusioner.

Pada masa pemerintahan Komunis di Uni Soviet, Negara sangat mengagungkan musik yang gegap gempita, membangkitkan semangat revolusioner, dan mengagungkan Negara dan penguasa. Berbeda dengan apa yang ada di USA dan Negara sekutunya yang liberal kapitalis, tentu saja musik berada dalam ruang yang lebih bebas: siapapun boleh mengkritik, menghujat dan mencaci maki apapun. Bukan hanya menghujat Pemerintah, Presiden, atau Raja, bahkan Orang Tua dan TUHAN sekalipun bebas dihujat dan di caci maki dalam suasana musik liberal. Hal yang demikian, jika terjadi di negara Komunis, tentu akan berhadapan dengan popor senapan para militer, jika tidak masuk bui. Seperti Soekarno, yang pada saat mengumandangkan NASAKOM nya kemudian memenjarakan Koes Bersaudara karena dianggap menyanyikan lagu-lagu ngak-ngik-ngok yang tidak sesuai dengan semangat negara yang sedang mempertahankan revolusi. Selain karena Soekarno memandang Koes Bersaudara sudah sangat kebarat-baratan (westernisasi). Memang saat itu para founding state kita dalam suasana anti terhadap negara-negara kapitalis liberal yang nyata-nyata menjajah Indonesia. Selain saat itu Soekarno sedang aktif membangun poros Jakarta-Peking-Pyongyang (Peking adalah Ibukota negara Republik Rakyat China, salah satu Negara Komunis). Itulah relasi nyata antara musik dengan ideologi.

Seperti juga pada masa kejayaan Islam oleh Dinasty Abbasiyah di Turki, musik dan gaya hidup yang tumbuh dan berkembang adalah sesuai dengan ideologi yang ada dan dianut oleh negara di ikuti oleh masyarakat banyak. Meskipun ada yang menganggap bahwa Islam bukanlah Ideologi, namun kita harus mencermati lagi, bahwa Islam, sebagai Agama, sama seperti Nasrani dan Yahudi, juga membawa dan mengajarkan nilai-nilai dan tatanan hidup yang ditawarkan sesuai ajaran. Didalam Islam selain diajarkan Makna Ketuhanan dan ritual peribatan dan pemujaan terhadap ALLAH SWT (hablum min’allah), juga diajarkan masalah sosial yang disebut sebagai hablum min’nanas (hubungan dengan Manusia). Bahkan lengkap dengan tujuan hidup, cara pencapaian dan infra struktur hidup seperti tatacara perdagangan, perniagaaan, keuangan, peperangan, keluarga, perkawinan, keturunan, pemerintahan, tata cara hakim/qodi yang baik menurut ajaran Islam, dan sebagainya sampai dengan tata cara makan, minum, tidur dan buang air besar, termasuk didalamnya masalah musik. Dengan kata lain selain sebagai agama dan ritual pemujaan terhadap sang KHALIK, Islam juga membawa sebuah pandangan hidup, lengkap dengan prototipe yang ada yaitu kehidupan Rasulullah Muhammad SAW.

Demikianlah hubungan yang erat antara gaya hidup, musik dan ideologi. Ketiganya tidak bisa dipisahkan dan saling berpengaruh, atau setidaknya saling berkaitan. Selalu saja ada sesuatu nilai, pandangan hidup, ideologi yang terbungkus dengan manis dalam untaian nada, lantunan syair, ataupun glamournya penampilan panggung dan gaya-gaya hidup tertentu atau dandanan tertentu. Negara, penguasa, (selain dari musisi dan pemain sendiri) tentu memiliki maksud dan tujuan dari apa yang diperagakan dan di mainkan dalam bermusik. Kita tentu masih bisa menerima jika yang bermain dengan ideologi apa yang ada dibalik simbol, musik dan syair-syair adalah para pemain itu sendiri. Namun yang tidak bisa diterima adalah bila negara yang sudah turun tangan untuk memaksakan nilai-nilai ideologi melalui musik, simbolisasi, nada dan syair. Lebih jauh lagi memaksakan life style dari warga negaranya untuk dianut bersama.

Oleh karena itu, mengajarkan relasi dan korelasi antara beberapa konsep penting yang ada (seperti ideologi, politik, kekuasaan) dengan konsep-konsep yang populis (seperti musik, gaya hidup, gaya rambut, dsb) kepada generasi muda khususnya dan juga semua generasi pada umumnya, sebuah keharusan dan memang diperlukan dalam abad modern yang makin berkembang cepat ini. Setidaknya generasi muda menjadi mawas diri dan berhati-hati dalam melangkah dan bertindak sebelum berbuat dan hanya asal ikut-ikutan atau memang terseret arus besar konspirasi ideologi dunia yang ada. Lebih baik lagi jika kemudian timbul kesadaran bersama dari para generasi muda dan juga generasi tua, bahwa kita perlu menyikapi hal ini dengan langkah kongkrit.. Tulisan ini tidak bertendensi apapun, selain menyadarkan generasi muda bahwa memang ada sebuah skema skenario dan konsep terselubung di balik apa yang dinamakan musik dan gaya hidup yang ada di zaman sekarang ini.
(Pwt, 31.4.2007.17.00WIB)

Tidak ada komentar: